Showing posts with label AKSESPOINT. Show all posts
Showing posts with label AKSESPOINT. Show all posts

Wednesday, May 26, 2010

Motorola Canopy Backhaul




Motorola Canopy adalah merk bergengsi produk termuka yang diakui kehandalan dan kestabilannya, berikut kami sertakan cara setting/konfigurasi Motorola Canopy Backhaul Freq 5,7GHz-10Mbps :

IP Address Default = 169.254.1.1, Subnet Mask = 255.255.0.0

Di Bagian Configuration --> Timing Mode, pilih = Timing Master (adalah Mode sebagai AP kalau di WLAN)

Timing Slave (adalah mode sebagai Client di WLAN)


Schedulling harus sama Master dan Slave, pilih Hardware(sebaiknya pilih Hardware, kinerja lebih baik) atau Sofware, pada Canopy Backhaul yg baru di "Master" Schedule Whitening = Enable


RF Frequency Carrier = harus sama antara Master dan Slave, kalau di WLAN/WIFI RF Frequency Carrier disebut dengan Channel.


Color Code Master dan Slave harus sama, misal 70 (Color code kalau di WIFI ibaratnya disebut dengan SSID)


Site Survey pada Timing Slave di bagian "AP Eval Data", minimal harus capai dibawah -75

Pada Motorola Canopy yg Baru, bagian Site Survey, ada di bagian sebelah kanan --> Tools --> BHM Evaluation

Bagian Status = Registered, artinya sudah Connected

Power Gain bisa capai max 23 dB

Anda bisa membeli Produk ini di www.netkom-wifi.com, Semoga bermanfaat.


Fitur Baru Senao Engenius EOC 2610



Setelah banyak menuai kontroversi dari posting sebelumnya maka sekarang kami haturkan, versi terbaru Senao Engenius EOC 2610, yakni dengan mengupgrade ke versi terbaru dari firmware EOC 2610, maka anda akan mendapati beberapa fitur terbaru dari Produk Wifi asal Taiwan ini, disamping itu juga mendapati adanya perbaikan yakni perbaikan pada sisi kestabilan perangkat, dimana pada firmware sebelumnya banyak ditemui complain dari para pemakainya, namun pada firmware baru 1.0.37 dan tidak lama kemudian disusul oleh versi 1.0.39 lebih "mendingan", gak bikin capek-capek amat, gak seperti sebelumnya.
Lebih menggembirakan lagi kita temui fasilitas-fasilitas baru yang belum dijumpai pada firmware sebelumnya 1.0.37, antara lain kita jumpai :
Di bagian Menu "System Properties", kita temui Mode : "WDS Bridge", dimana Senao EOC 2610
ini bisa berperan sebagai Repeater, meski dianjurkan hanya bisa berkomunikasi dengan perangkat sesama vendor. Tetap pada Menu ini, kita temui fitur istimewa yakni "Super Channel", dimana fitur ini biasa kita jumpai pada perangkat Mikrotik dan DD-WRT Lisence, dengan Super Channel maka EOC 2610 mendapat "Kelonggaran" channel yang lebih banyak, yakni ada tambahan 13 Channel lagi pada Frequency 2300 MHz, jadi bermanfaat bagi instlasi-instalasi di kota besar, dimana kondisi lingkungannya sudah padat oleh pemakaian Freq 2,4GHz, namun anda harus tetap waspada karena penggunaan frequency diluar Freq 2,4GHz harus tetap ada ijin lisensinya, kalau melanggar bisa-bisa anda harus menemani Saudara "Antasari Azhar" di Rumah Tahanan.
Pada menu berikutnya lagi-lagi Pabrik Engenius membuat kejutan, dengan menambah jumlah SSID yang bisa "dikeluarkan" oleh Engenius EOC 2610 ini yakni radio yang berpower max 600mw ini bisa mengeluarkan 4 (empat) SSID, dimana masing-masing SSID bisa memiliki SSID yang berbeda-beda sesuai kebutuhan kita.
Menu selanjutnya Wireless Advanced Settings, fasilitas barunya "Channel Bandwidth ", dimana kita bisa memperkecil lagi besaran spektrum frequency-nya mulai dari 5, 10, dan normal 20 MHz. fitur ini perlu juga bagi mereka yang ingin memperkecil dampak interferensi, namun kekurangannya adalah Troughtput kita akan mengalami penurunan. Fitur ini memang sebelumnya menjadi ciri khas dari Mikrotik dan Pabrikan Ubiquity. So meski begitu tetap kita acungkan jempol buat Engenius yang bisa memberikan alternatif bagi penggunanya.
Fitur lainnya ada di bagian "Management", ada tambahan menu "Diagnostics", yang berisi dua fitur baru yakni "Ping Test Parameters" dan "Traceroute Test Parameters", dimana cukup membantu kita dalam mengevaluasi kasil koneksi.
Jadi dengan fiur-fitur baru diatas agaknya EOC 2610 menjadi naik kelas, meski minus fitur-fitur baru tersebut, EOC 2610 juga memiliki kelebihan-kelebihan lain diantaranya, dia punya fasilitas
HTTP, SNMP and telnet management, dengan fitur Telnet ini anda bisa mengaksesnya melalui prompt Linux. Kemudian pada mode Akses Poin, anda bisa memonitor MAC Address client yang terhubung beserta kualitas RSSI-nya. Kelebihan lainnya adalah Pabrikan Engenius ini memiliki stock yang selalu terjaga, dan amat jarang kita jumpai kekosongan stock produk Engenius dalam kurun waktu lama, berbeda dengan merk Mikrotik, Ubiquity dan Finetic apabila kosong stock bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu, dengan pengalaman 30 tahun berproduksi, Engenius mampu menjaga safety stock-nya.

Engenius Senao EOC 2610



Setelah kehadiran Nano Station yang cukup fenomenal, maka pabrikan Engenius gak mau kalah, mereka melaunching produk yang hampir mirip, yakni Senao EOC 2610, bentuknya bisa dilihat di gambar atas. Bedanya dengan Nano Station2 adalah powernya dari EOC ini lebih gede hingga 600 mw atau 28 dBm, bandingkan dengan Nano Station2 yang "hanya: 400mw atau 26dBm.
Fasilitas atau fitur-fitur yang lain hampir sama dengan Nano station.

Keunikan dari produk ini adalah kita bisa men-set-nya sesuai wilayah Region/Country, setting seperti ini jarang dimiliki oleh produk sejenis, ada lagi yang unik seperti setting "Spanning Tree Setting" yang berguna untuk mencari jalur terpendek dari sebuah lintasan, sehingga dengan kata lain hal ini digunakan untuk mencari solusi untuk membuat jaringan agar tidak memakan banyak jalur. Kemudian Operation mode dari radio buatan Taiwan meliputi; Access Point, Client Bridge dan Client Router.

Pada":Wireless Advanced Settings", kita juga menemukan berbagai fitur sepertil Data Rate yang berguna untuk menentukan besaran kecepatan trasfer rate data, hingga 108Mbps, bandingkan dengan Nano Station yang hanya 54Mbps, kemudian Transmit Power, dimana default dari Access Point ini hanya 20dBm, kondisi ini bisa dimaksimalkan hingga 28dBm (600mw) dimana besar powernya semakin jauh jangkauannya, lalu kesamaan dengan Nano Station, pada bagian ini kita juga bisa men-set perangkat ini untuk disesuaikan dengan jarak tempuhnya, mulai dari
1 Km hingga 30 Km.

Sementara untuk Securitynya sama dengan perangkat Wifi lainnya, EOC 2610 juga sudah support dengan WEP, WPA, WPA-PSK, dan WPA2-PSK. Jika berfungsi sebagai AP, maka kita juga bisa membatasi perangkat client yang terhubung berdasar MAC Address, yakni pada fitur "Wireless MAC Filter".
Secara fisik EOC 2610 sudah dilengkapi dengan antena panel sebesar 10dBi, jadi kita gak perlu nambahin antena lagi, karena antena yang sudah ada sekarang cukup besar powernya, cukup kalau untuk jarak antara 0-9 Km, kalau ingin menambah range jangkauannya anda bisa menambahkan antena Outdoor seperti Omni, Grid, Yagi dll, karena radio ini sudah dilengkapi dengan konektor SMA, jadi kita membelikan pigtail SMA Female untuk koneksi ke antena tambahan. Beda dengan Nano Station perubahan penggunaan antena tambahan bisa diatur dengan suatu tombol switching yang berdampingan dengan tombol reset, jadi performa radio ini dengan antena tambahan lebih meyakinkan dibanding dengan Nano Station. Kerennya EOC 2610 dilengkapi dengan chipset berkualitas yakni
Atheros AR2316 Single chip, Memory 32MB SDRAM, dan Flash 8 MB, setidaknya dengan persenjataan ini diharapkan Radio ini memiliki performance prospektif, tinggal waktu yang akan membuktikan. Namun pengalaman pendek juga membuktikan seorang user kami di Porong, Sidoarjo, menggunakannya diinstall berdampingan dengan Omni Finetic, mampu mencapai jangkauan 5 Km pada kondisi power hanya di-Set 25dBm atau hanya separuhnya belum maximal ke 28dBm, dengan Client menggunakan Edimax 7206APg dan Antena Grid Korea 25dBi.
Lampu indikator Link Quality juga menambah daya tarik perangkat Engenius ini, dengan indikasi : Warna Hijau menunjukkan kualitas link yang bagus, Kuning menunjukkan Sedang, dan Merah menunjukkan kualitas koneksi yang kurang baik. Keistimewaan berikutnya adalah Adaptornya memiliki daya yang cukup besar yakni 24Volt, ini menunjukkan keseriusan pihak Engenius untuk menjadikannya sebagai perangkat Outdoor.
Adapun saran kami mengingat besarnya gain power yang dimiliki hingga 600mw, maka gunakanlah secara bijaksana, seperlunya saja, jangan menggunakannya secara maximal kecuali jika kondisi mendesak, perhatikanlah lingkungan sekitar anda yang pasti akan terganggu jika anda menggunakannya dengan tidak bijak.
Sayangnya EOC 2610 ini tidak dilengkapi dengan fitur WDS atau repeater, tapi bisa dimaklumi juga dengan harga cukup murah kita bisa mendapatkan radio ber-power gede.

Linksys WRT54GL dengan DDWRT Firmware



Secara default Linksys WRT54GL dengan firmware aslinya hanya bisa jalan dalam Mode AP saja, jadi dia tidak bisa berperan sebagai station atau client, namun ketika dia diupgrade firmwarenya dengan DDWRT (www.dd-wrt.com), disitulah kehebatan Linksys mulai terasa, dia naik kelas dari kelas ekonomi ke kelas premium, firmware buatan orang Jerman, Sebastian Gottschall a.k.a BrainSlayer, dinilai mampu meningkatkan kinerja akses poin ini.
Feature dari Firmware berbasis Linux ini antara lain :

# 802.1x Extensible Authentication Protocol (EAP)
# Access Restrictions
# Ad Hoc
# Afterburner
# Client Isolation Mode
# Client Mode (supports multiple connected clients)
# DHCP Forwarder (udhcp)
# DHCP Server (udhcp or Dnsmasq)
# DNS Forwarder (Dnsmasq)
# DMZ
# Dynamic DNS (DynDNS, easyDNS, FreeDNS, No-IP, TZO,
ZoneEdit, custom, and others)
# Hotspot Portal (Sputnik Agent ,Chillispot)
# IPv6
# JFFS2 (JFFS2)
# MMC/SD Card Support (hardware modification required)
# NTP
# ntop Remote Statistic (ntop)
# OpenVPN Client & Server (only in -vpn build of the firmware)
# Port Triggering
# Port Fowarding
# PPTP VPN Server & Client
# QoS Bandwidth Management
# QoS L7 Packet Classifier (l7-filter)
# RFlow
# Routing (BIRD)
# Samba FS Automount
# Syslog
# Rx Antenna
# Tx Antenna
# Show Status of Wireless Clients and WDS with System
Uptime/Processor Utilization
# Site Survey
# SNMP
# SSH server & client (dropbear)
# Startup, Firewall, and Shutdown scripts (startup script)
# Static DHCP
# Style (Changeable GUI; v.23)
# Supports New Devices (WRT54G V3, V3.1, V4, V5 and WRT54GS
V2.1, V3, V4)
# Telnet server & client
# Transmit Power Adjustment (0-251mW, default is 28mW, 100mW is
safe)
# UPnP
# VLAN
# WOL (Wake On Lan) (WOL)
# WDS Connection Watchdog
# WDS Repeater Mode
# Wireless MAC Address Cloning
# Wireless MAC Filter
# WMM (Wi-Fi MultiMedia)
# WPA over WDS
# WPA/TKIP with AES
# WPA2

Berdasar pengalaman penulis, type akses poin (AP) Linksys yang cocok diupgrade ke DDWRT, adalah Linksys WRT54GL, selain AP type tersebut, kemungkinan untuk gagal update besar sekali, so jangan coba-coba anda mengupgrade firmware tanpa pengetahuan dan pengalaman.

Untuk upgrade firmware DDWRT, langkah pertama download dahulu firmware dwrt di situsnya : www.dd-wrt.com, pilihlah versinya sesuai keinginan anda, sebaiknya anda pilih versi mini dahulu, demi kemanan perangkat Linksys anda, setelah di download pada komputer anda, anda masuk ke web konfigurasi Linksys WRT54GL, anda masuk ke bagian administration, lalu pilih kolom upgrade firmware, lakukan upgrade, ingat selama proses upgrade firware, jangan sampai koneksi listrik dimatikan atau padam, akibatnya kalau terjadi demikian akan merusak Linksys anda, setelah ada pesan Upgrade Successfull, anda lakukan proses Reset, agar lebih stabil, kemudian setelah direset, lakukan upgrade ulang dengan menggunakan firmware yang standart, ingat sekali lagi setelah proses upgrade selesai atau berhasil, lakukan Reset untuk kedua kalinya. Demikian skenario proses upgrade firmware DDWRT, di lain tulisan akan kita bahas beberapa feature DDWRT.

TEST BERBAGAI AKSES POIN



Pada kesempatan kali ini kami menguraikan test/uji berbagai merk access point yang beredar di pasaran saat ini, sengaja dalam pengujian ini kami membiarkan setting akses poin dalam kondisi defaultnya, kalaupun ada itu hanya sekedar mengganti setiing ip address saja, demikian selamat menikmati
Pengujian menggunakan USB Wireless Edimax EW7318UG berchipsetkan Ralink yang diset sebagai Akses Poin(AP) dalam jaringan Ad Hoc, serta sebagai client penerima adalah PCMCIA WLAN AR5001X milik penulis yang berchipsetkan Atheros, dan alat test tool Netstumbler versi 0.4.0, kekuatan signal mencapai maksimum hingga 44 dan SNR 38 pada jarak 5 meter yang terhalang dinding tembok. Penulis juga melakukan ping dari komputer Windows XP ke USB Wifi Edimax dengan menggunakan perintah :
ping 192.168.1.50 -n 100 -l 65500
dimana perintah tersebut melakukan ping dengan kekuatan beban sebesar 65.500 bytes ke USB Wifi Edimax selama 100 kali, hasilnya adalah paket yang terkirim sebanyak 97 dan 7 paket hilang (7%loss), waktu tempuh minimum 126ms, maksimum 306ms, rata-rata 173ms. Penulis juga melakukan transfer file video sebesar 547.906KB, hasilnya terkirim dengan mulus, tanpa terputus-putus, kesimpulanya adalah anda layak untuk membelinya, cocok banget buat berhotspot ria.


Test AP TP-LINK TP-link eXtended Range 54M Wireless Access Point

Pada kesempatan yng sama penulis melakukan test pada Akses Poin merk TP-Link TL-i, akses poin yang lagi naik daun ini berchipsetkan Atheros, sebagai client, tetap kami gunakan PCMCIA WLAN AR5001X , pada jarak 5 meter yang terhalang tembok tebal, kami berhasil melakukan transfer data berupa sebuah file sebesar 56,1MB tanpa terputus-putus, selama 2 menit 36,5 detik. Kemudian tetap pada jarak 5 meter yang terhalang tembok rapat, penulis melakukan test dengan Nestumbler, didapat kekuatan signal maksimal sebesar 37 dan SNR juga 32, lalu penulis juga melakukan ping dari notebook yang berbasiskan Windows XP ke AP TP-Link dengan menggunakan perintah
ping 192.168.1.1 -n 100 -l 65500
dimana perintah tersebut melakukan ping dengan kekuatan beban sebesar 65.500 bytes ke AP TP-Link selama 100 kali, hasilnya adalah paket yang terkirim 0, tidak ada satupun yang berhasil terkirim, semuanya RTO (Request Time Out), begitu pula ketika diberi beban 1500 byte, hasilnya tetap RTO semua, baru ketika diberi beban 1470byte, 100% paket terkirim semua. Kesimpulannya meski mengusung chipset bagus, tapi kinerja TP-Link masih kurang memuaskan.



Tes AP Edimax 7206Apg

Kali ini penulis melkukan test pada Akses Poin merk Edimax 7206Apg, akses poin yang kawakan di kalangan praktisi wifi ini berchipsetkan Realtek, sebagai client, tetap kami gunakan PCMCIA WLAN AR5001X , pada jarak 5 meter yang terhalang tembok tebal, kami berhasil melakukan transfer data berupa sebuah file sebesar 56,1MB tanpa terputus-putus dalam waktu 41,9 detik. Kemudian tetap pada jarak 5 meter yang terhalang tembok rapat, penulis melakukan test dengan Nestumbler, didapat kekuatan signal maksimal sebesar 33 dan SNR sebesar 30, lalu penulis juga melakukan ping dari notebook yang berbasiskan Windows XP ke AP Edimax dengan menggunakan perintah
ping 192.168.2.1 -n 100 -l 65500
dimana perintah tersebut melakukan ping dengan kekuatan beban sebesar 65.500 bytes ke AP TP-Link selama 100 kali, hasilnya adalah paket yang berhasil terkirim sebanyak 95 dan 5 paket hilang (5%loss), waktu tempuh minimum 125ms, maksimum 516ms, rata-rata 176ms.
Kesimpulannya nama tersohor Edimax, memang bukan bualan atau promosi belaka, meski tingkat signal di bawah AP TP-Link tapi performanya jauh diatas TP-Link.



Tes AP MINITAR Broadband Router

Kami juga melakukan test pada Akses Poin + Router merk Minitar, akses poin yang kawakan di kalangan praktisi wifi ini berchipsetkan Realtek, sebagai client, tetap kami gunakan PCMCIA WLAN AR5001X , pada jarak 5 meter yang terhalang tembok tebal, kami berhasil melakukan transfer data berupa sebuah file sebesar 56,1MB tanpa terputus-putus dalam waktu 51,3 detik. Kemudian tetap pada jarak 5 meter yang terhalang tembok rapat, penulis melakukan test dengan Nestumbler, didapat kekuatan signal maksimal sebesar 36 dan SNR sebesar 29, lalu penulis juga melakukan ping dari notebook yang berbasiskan Windows XP ke AP Edimax dengan menggunakan perintah
ping 192.168.1.254 -n 100 -l 65500
dimana perintah tersebut melakukan ping dengan kekuatan beban sebesar 65.500 bytes ke AP Minitar selama 100 kali, hasilnya adalah paket yang berhasil terkirim sebanyak 98 dan 2 paket hilang (2%loss), waktu tempuh minimum 136ms, maksimum 259ms, rata-rata 165ms.
Kesimpulannya AP plus Router ini layak dijadikan sebagai gawang internet anda, kemampuan memorynya yang cukup besar yakni 256MB, mampu memberikan pelayanan yang cukup baik bagi para clientnya.



Tes AP Linksys WAP54G

Test juga dilakukan pada Akses Poin merk Linksys WAP 54G, akses poin yang kawakan di kalangan praktisi wifi ini berchipsetkan Realtek, sebagai client, tetap kami gunakan PCMCIA WLAN AR5001X , pada jarak 5 meter yang terhalang tembok tebal, kami berhasil melakukan transfer data berupa sebuah file sebesar 56,1MB tanpa terputus-putus dalam waktu 44,3 detik. Kemudian tetap pada jarak 5 meter yang terhalang tembok rapat, penulis melakukan test dengan Nestumbler, didapat kekuatan signal maksimal sebesar 25 dan SNR sebesar 31, lalu penulis juga melakukan ping dari notebook yang berbasiskan Windows XP ke AP Edimax dengan menggunakan perintah
ping 192.168.1.254 -n 100 -l 65500
dimana perintah tersebut melakukan ping dengan kekuatan beban sebesar 65.500 bytes ke AP Minitar selama 100 kali, hasilnya adalah paket yang berhasil terkirim sebanyak 100 dan 0 paket hilang (0%loss), waktu tempuh minimum 126ms, maksimum 237ms, rata-rata 146ms.
Kesimpulannya AP besutan Cisco ini layak dijadikan sebagai andalan hotspot anda, kecepatan dan kestabilannya memang cukup mengagumkan, layak dengan design bodynya yang kokoh namun menawan.



Tes AP Edimax BR-6204Wg Wireless 802.11b/g Broadband Router with 4 Ports Switch

Test pada Akses Poin merk Edimax Router, akses poin yang kawakan di kalangan praktisi wifi ini berchipsetkan Realtek, sebagai client, tetap kami gunakan PCMCIA WLAN AR5001X , pada jarak 5 meter yang terhalang tembok tebal, kami berhasil melakukan transfer data berupa sebuah file sebesar 56,1MB tanpa terputus-putus dalam waktu 1 menit 5,7 detik. Kemudian tetap pada jarak 5 meter yang terhalang tembok rapat, penulis melakukan test dengan Nestumbler, didapat kekuatan signal maksimal sebesar 27 dan SNR sebesar 23, lalu penulis juga melakukan ping dari notebook yang berbasiskan Windows XP ke AP Edimax dengan menggunakan perintah
ping 192.168.2.1 -n 100 -l 65500
dimana perintah tersebut melakukan ping dengan kekuatan beban sebesar 65.500 bytes ke AP TP-Link selama 100 kali, hasilnya adalah paket yang berhasil terkirim sebanyak 94 dan 6 paket hilang (6%loss), waktu tempuh minimum 144ms, maksimum 716ms, rata-rata 184ms.
Kesimpulannya meski tidak terlalu mengecewakan, namun hasil test kali ini lebih baik dari adiknya yakni Edimax 7206Apg.

Konfigurasi Wireless Access Point Edimax 7206 Apg



Ikuti Langkah-Langkah berikut ini Untuk Menjadikan Edimax sebagai Hotspot dan Client :

  1. Pastikan Wireless AP Edimax anda sudah menyala dan kabel LANnya terhubung dengan komputer anda.


  1. Secara default IP Address dari Edimax adalah 192.168.2.1, jadi anda perlu menyeting IP Address komputer anda, misal 192.168.2.2.


  1. Buka browser favorit anda, lalu ketikkan pada address bar http://192.168.2.1 masukan user:admin dan password: 12345


  1. Bila sudah muncul, maka tampilan awal adalah “Status and Information”, yang berisi informasi umum dari Wireless AP Edimax anda.


  1. Klik “Basic Setting” untuk menjadikan Wireless AP kita menjadi Access Point, berikut hal-hal yang perlu di setting:

Mode: AP

Band: 2.4 GHz (B+G)

ESSID: isi terserah anda

Channel Number: 11 (pemberian channel number akan dijelaskan pada point 6)

Lalu klik “Apply”, klik “Apply” lagi, tunggu Wireless AP anda akan melakukan restart. Bila sudah selesai, klik “OK”.


  1. Pemberian “Channel Number” sangatlah penting dan tidak boleh asal-asalan. Hal ini akan tampak bila di daerah jangkauan hotspot anda terdapat lebih dari 1 buah access point, maka akan terjadi interferensi.

Berikut caranya:

    1. pastikan bahwa channel yang anda gunakan tidak sama dengan AP yang berada disekitar anda. Gunakan NetStumbler untuk melihat channel dan AP yang telah ada.

    2. Untuk menghindari terjadinya interferensi, kita harus memberikan channel yang berbeda dari channel yang sudah ada. Contoh:

Channel yang sudah ada: 11

Channel yang kita berikan untuk AP kita: 8


Untuk Wireless AP Edimax sebagai Client:


  1. Klik Tab Basic Setting Pilih Mode “Station Infrastructure” Apply


  1. Masuk ke Basic Setting Site Survey Pilih AP yang akan dikoneksikan Lalu klik Connect.

  2. Lakukan test ping komputer lokal atau ping ke internet, semoga berhasil, God Bless You.

USB Wireless Edimax EW7318UG





Kami melakukan pengujian menggunakan USB Wireless Edimax EW7318UG berchipsetkan Ralink yang diset sebagai Akses Poin(AP) dalam jaringan Ad Hoc, serta sebagai client penerima adalah PCMCIA WLAN AR5001X milik penulis yang berchipsetkan Atheros, dan alat test tool Netstumbler versi 0.4.0, kekuatan signal mencapai maksimum hingga 44 dan SNR 38 pada jarak 5 meter yang terhalang dinding tembok. Penulis juga melakukan ping dari komputer Windows XP ke USB Wifi Edimax dengan menggunakan perintah :

ping 192.168.1.50 -n 100 -l 65500

dimana perintah tersebut melakukan ping dengan kekuatan beban sebesar 65.500 bytes ke USB Wifi Edimax selama 100 kali, hasilnya adalah paket yang terkirim sebanyak 97 dan 7 paket hilang (7%loss), waktu tempuh minimum 126ms, maksimum 306ms, rata-rata 173ms. Penulis juga melakukan transfer file video sebesar 547.906KB, hasilnya terkirim dengan mulus, tanpa terputus-putus, kesimpulanya adalah anda layak untuk membelinya, cocok banget buat berhotspot ria.

Spesifiaksi Produk :

Standards IEEE 802.11b/g
USB Port USB 2.0 Type A
Frequency Band 2.4000~2.4835GHz
(Industrial Scientific Medical Band)

Modulation OFDM with BPSK, QPSK, 16QAM, 64QAM (11g)
BPSK, QPSK, CCK (11b)

Data Rate 54/48/36/24/18/12/11/9/6/5.5/2/1Mbps auto fallback
Security 64/128/256-bit WEP Data Encryption,
WPA/WPA2 (TKIP with IEEE 802.1x) and AES
Antenna Internal Antenna
Dimension 14(H) x 28.5(W) x 91(D) mm
Transmit Power 16 dBm (Typical)
Temperature 0~60oC
Humidity 10~85% (Non-Condensing)
Certification FCC, CE

Test TP-Link WA-5110G dengan Senao ECB 3220



Kali ini TP-Link merk populer dari daratan Tirai Bambu Cina untuk urusan perangkat networking merilis produk baru, TL-WA5110G, access point dengan TX Power gede, yakni 26dBi atau 400mw, dengan tujuan untuk memperluas area coverage jangkauan, bahkan di site resminya www.tp-link.com, mengklaim bisa mencapai jangkauan hingga 50 Km lebih, asal harus dilengkapi dengan antena pengarah terfokus. Menariknya dalam kelengkapan paket penjualannya, WA-5110G sudah dilengkapi dengan POE (Power Over Ethernet), dengan kelengkapan ini agaknya TP-Link berniat untuk menyasar market perangkat radio outdoor seperti halnya Engenius dan Ubiquity, namun yang membedakan dengan kedua merk tersebut adalah harga WA-5110G jauh lebih murah, hanya Tiga Ratusan Ribu (sesuai nilai kurs saat posting ini), selain itu WA-5110G juga dilengkapi fitur istimewa, seperti Supports Ping Watch Dog (berguna untuk maintenance radio jika terjadi error), Supports Link Speed Test, dan Supports Antenna Alignment. Nah sekarang mari kita mulai jajal atau adu dengan akses poin sekelas dengannya, yakni Senao Engenius ECB 3220, yang sama-sama memiliki TX Power 26dBi. Tes kali ini kita menggunakan 2 tool software, yakni Netstumbler, anda bisa mendownloadnya DISINI, dan Bandwidth Test, Download juga DISINI.
Pada kondisi Indoor yang tidak LoS (Line of Sight). kita adu kedua radio ini pada kondisi TX Power sama-sama maksimal di 26dBi, dan hasilnya :
TP-Link WA-5110G =
- Bandwidth Test (Tool Mikrotik Bandwidth Test) = max 9- 12 Mbps
- Signal Strength (Tool Netstumbler) = +36

Senao ECB 3220 =
- Bandwidth Test(Tool Mikrotik Bandwidth Test) = max 13 - 15 Mbps
- Signal Strength(Tool Netstumbler) = +39

Jadi pemenang tes kali ini adalah Senao ECB 3220, dimana pada test adu cepat throughput, ECB 3220 lebih unggul sekitar 4 poin, dan pada tes kekuatan sinyal, kembali Engenius ECB 3220 mempunyai nilai lebih 3 poin dari TL-5110G. Agaknya benar juga hukum pasar, harga menentukan kualitas, harga ECB 3220 bisa mencapai dua kali lipat dari TL-5110G, namun dengan performa diatas TL-5110G. Maka kita belajar jangan terpesona oleh harga murah, di era pasar bebas sekarang, pasar akan dibanjiri oleh produk-produk baru yang murah meriah, namun dengan kualitas yang perlu dikritisi.

Menjajal DoS pada Access Point Radio Board ARGTEK /Power King 1000mw Outdoor



Anda pernah mendengar serangan DoS (Denial of Service) ? DoS adalah serangan terhadap komputer atau server di jaringan dengan membanjirinya dengan paket data yang begitu besar, sehingga komputer atau Server target kehabisan sumber daya yang pada akhirnya tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. DoS Attack ini dikenal sebagai serangan yang sulit dielakkan atau dihindari, dalam sejarahnya banyak server-server terkemuka di dunia pernah tumbangan oleh gempuran DoS ini, seperti Servernya Amazon, Microsoft dll. Biasanya DoS dilakukan dengan memanfaatkan Bug/Vulnerability pada sisi Server/Komputer target.
Ingin tahu lebih banyak tentang DoS Attack ini ? Download tutorialnya di DISINI, tapi ingat jangan disalah gunakan, hukum Karma pasti berlaku.
Nah, ketika muncul Access Point Radioboard ARGTEK/Power King 1000mw Outdoor di pasaran, maka kami terusik untuk menjajalnya, begitu masuk ke interface web based nya, ada fitur yang menarik minat kami yakni fitur "Denial of Service", fitur ini dimaksud untuk menghalau serangan DoS, dan fitur ini memang jarang dimiliki oleh access point lain selain merk Minitar Router dan Zinwell(sepengetahuan kami). Disini kami bermaksud untuk men-test Radioboard ARGTEK yang menurut pengakuannya memiliki TX Power hingga 1000mw itu. Langkah pertama kami non-aktifkan dulu fitur DoS ini, sehingga Radioboard ARGTEK ini tanpa perlindungan dari DoS Attack, lalu kami jalankan DoS Attack dengan tool legendaris yakni "Pingflood", kami gunakan opsi beban paket data 10000 namun Access Point asal Taiwan ini masih mampu bertahan, wah lumayan juga nih radio murah namun cukup tangguh begitu awalnya dugaan kami, kemudian kami perbesar paket data ke 50000, nah disini si ARGTEK atau Power King ini sudah keok, aksesnya ke jaringan lokal terputus oleh serangan ini.
Langkah berikutnya kami aktifkan fitur DoS pada si ARGTEK 1000mw ini untuk mengaktifkan perlindungannya dari "Pingflood", pertama paket data sebesar 10000 bisa ditahannya dengan baik, namun pada langkah berikutnya kami perbesar opsi dengan menambah beban paket data ke 50000, yah.................. ternyata keok juga nih, aksesnya putus dari jaringan dengan lebih dari 50% RTO alias Request Time Out.
Jadi kesimpulannya fitur DoS pada AP ARGTEK 1000mw ternyata tidak bertahan terhadap serangan Denial of Service, dan juaranya adalah si "Pingflood".
Namun lepas dari kelemahan fitur DoS tersebut, radio ARGTEK ini cukup menawan hati, gimana tidak memikat selain harganya murah namun fiturnya cukup komplit, antara lain Mode Universal Repeater, Routing, DDNS, Firewall (dgn filter URL, IP Address, Port, dan MAC), VPN, WatchDog, dan yang tidak kalah serunya si Radioboard ini memiliki fasilitas QoS hingga mampu mengontrol Bandwidth atau Bandwidth Management kepada clientnya berdasarkan IP Address, nah mumpuni kan, powernya juga besar, namun disini kami harap anda cukup bijaksana jangan menggunakan Output Power yang besar, gunakan secukupnya, toleransilah ke lingkungan di sekitar anda, power yang terlalu besar akan merugikan anda dan lingkungan sekelilingnya.
Meski murah dari pengalaman para user yang menggunakannya, performance dari radioboard ini tidak mengecewakan signal strength kuat, relatif stabil, hanya kadang-kadang perlu dimatikan jika terlalu panas, namun hal ini biasa terjadi pada radio-radio merk lainnya.
Sayangnya ARGTEK hanya memberikan garansi 6 bulan, bukan 1 tahun.

Anda bisa mendapatkan radio outdoor ARGTEK ini di www.netkom-wifi.com.

Anda juga bisa mendownload manual cara setting ARGTEK dlm bahasa Indonesia, Download DISINI

 

#######